Langsung ke konten utama

Postingan

Artikel Populer

DPR Disabotase: Surat Pemakzulan Gibran Tidak Dibacakan

PHK dan Kemiskinan Struktural Di Indonesia: Menyulut Api Ketidakpuasan Rakyat

Krisis PHK dan Kemiskinan Struktural: Ketika Janji Palsu Menyulut Api Ketidakpuasan Rakyat Ilustrasi: Ribuan warga turun ke jalan dalam demonstrasi menolak PHK massal yang melanda berbagai sektor di Indonesia. (Foto: Amsor TV) Jakarta, 11 Mei 2025 — Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang kian meluas di Indonesia menandai krisis ekonomi yang tidak bisa lagi disangkal. Hingga saat ini, tercatat hampir 90 ribu pekerja kehilangan pekerjaan, termasuk di sektor yang selama ini dianggap tangguh seperti media massa. Di tengah janji-janji penciptaan 19 juta lapangan kerja dan program makanan bergizi gratis, kenyataan di lapangan justru menunjukkan kemerosotan daya beli, jeritan rakyat, dan ketidakpastian masa depan. PHK Massal: Fenomena yang Terus Membesar Selama beberapa tahun terakhir, Indonesia dihadapkan pada krisis ekonomi yang tidak hanya mempengaruhi se...

Gencatan Senjata India Pakistan Dimediasi As: Awal Rapuh Menuju Perdamaian Abadi ?

Gencatan Senjata India-Pakistan Dimediasi AS: Awal Rapuh Menuju Perdamaian Abadi? Tentara India berjaga di sepanjang perbatasan Kashmir saat gencatan senjata dengan Pakistan diberlakukan, 10 Mei 2025. (Foto: Amsor TV/Al Jazeera) Kashmir, India, 11 Mei 2025 — Ketegangan yang telah melanda kawasan Asia Selatan selama beberapa pekan terakhir mulai mereda, setidaknya untuk sementara waktu. Pada Sabtu (10/5), India dan Pakistan secara resmi sepakat untuk mengimplementasikan gencatan senjata baru, hasil dari mediasi maraton yang dilakukan oleh Amerika Serikat. Kesepakatan ini memberikan harapan baru bagi kawasan yang telah lama dilanda ketegangan, meskipun tantangan menuju perdamaian jangka panjang masih terasa sangat besar. Gencatan senjata ini tercapai setelah salah satu eskalasi militer paling serius dalam beberapa dekade terakhir. Ke...

Potensi Perang Dunia Ketiga: Narasi Fiksi Yang Mendekati Kenyataan

Potensi Perang Dunia Ketiga: Narasi Fiksi yang Kian Mendekati Kenyataan Gambar Ilustrasi: Sejarah Panjang Konflik India-Pakistan dengan latar Gedung PBB Jakarta – Minggu, 11 Mei 2025,Dalam sejarah panjang peradaban manusia, perang telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari dinamika politik, ekonomi, dan sosial dunia. Dua perang dunia yang terjadi di abad ke-20 telah membawa dampak luar biasa bagi kehidupan umat manusia. Jutaan jiwa melayang, tatanan dunia berubah, dan luka sejarah yang dalam masih terasa hingga kini. Saat ini, ketika dunia tampak lebih terhubung secara digital dan mengedepankan perdamaian melalui diplomasi, ancaman akan perang global justru kembali mengemuka. Potensi terjadinya Perang Dunia Ketiga menjadi topik hangat di kalangan analis geopolitik, jurnalis, bahkan para penulis fiksi politik. Yang menarik, narasi fiksi yang dulunya dianggap khayalan kini semakin terasa nyata. ...

Tarif Naik, Delegasi Indonesia Bertemu Trump Pulang Tanpa Kesepakatan

Delegasi Indonesia dan pejabat Amerika Serikat berdiskusi dalam suasana diplomatik resmi, membahas isu tarif dan akses pasar. Jakarta – Sabtu, 10 Mei 2025,Dalam dunia diplomasi ekonomi, sikap dan respons negara mitra sangatlah krusial. Kali ini, hubungan dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat menampilkan sebuah kontras mencolok bila dibandingkan dengan perlakuan AS terhadap Tiongkok. Seperti permainan masa kecil di mana siapa yang berkedip duluan kalah, dalam perang tarif ini, Amerika justru ‘kedip’ terlebih dahulu kepada Tiongkok. Namun terhadap Indonesia, yang terjadi justru sebaliknya — tatapan tajam penuh tekanan dan kenaikan tarif hingga 47%. Amerika dan Tiongkok: Siapa yang Menang Tarik-Ulur? Di awal tahun 2025, ekonomi Amerika menunjukkan penurunan sebesar 0,3% dalam kuartal pertama. Sebagai Presiden yang mengedepankan stabilitas ekonomi domestik, Donald Trump mengambil langkah pragmatis: menurunkan tensi dengan Tiong...

IPL Ditangguhkan Akibat Konflik Memanas antara India dan Pakistan

IPL Ditangguhkan Akibat Konflik Memanas antara India dan Pakistan New Delhi, India – Dunia olahraga Asia dan internasional dikejutkan oleh penangguhan sementara Liga Premier India (IPL), salah satu turnamen kriket paling menguntungkan di dunia, menyusul meningkatnya konflik militer antara India dan Pakistan. Keputusan ini diambil setelah sebuah pertandingan di kota Dharamshala, India utara, dibatalkan akibat serangan roket yang terjadi kurang dari 200 kilometer dari lokasi pertandingan. IPL, yang biasa berlangsung dengan kemeriahan luar biasa dan pengaruh mendalam dalam budaya populer India, kini harus terhenti setidaknya selama sepekan, menandai salah satu gangguan paling signifikan dalam sejarah turnamen tersebut. Dengan ketegangan geopolitik yang mencapai puncaknya, pertanyaan besar muncul mengenai nasib kompetisi, keselamatan para pemain, dan dampak ekonominya. Baca juga: ▶️ Berita Sepak Bola Terbaru: Mbappe Samai Rekor Legenda ▶️ Pelatih China Berambisi Per...

Kenapa Indonesia Bangsa Yang Religius Tapi Subur Korupsi dan Kriminalitas?

Guru Gembul saat menyampaikan edukasi terkait budaya, sejarah, dan kondisi moral masyarakat Indonesia melalui kanal YouTube-nya. Jakarta, – Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan populasi religius terbesar di dunia. Data dari berbagai survei menunjukkan lebih dari 85% masyarakat Indonesia memegang teguh nilai agama dan melaksanakan ajaran keyakinan masing-masing dalam kehidupan sehari-hari. Rumah ibadah berdiri megah di setiap sudut kota dan desa; acara keagamaan selalu dipadati jamaah; bahkan identitas religius sering kali menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan sosial dan politik. Namun, ironisnya, dalam realitas sehari-hari, Indonesia justru tercatat sebagai salah satu negara dengan tingkat korupsi , kriminalitas , dan pelanggaran hukum yang tinggi. Laporan Transparency International 2023 menempatkan Indonesia di peringkat ke-110 dari 180 negara dalam Indeks Persepsi Korupsi. Selain itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) juga menunjukkan bahwa angka ...

Dinasti Politik Jokowi Dan Ancaman Disintegrasi 2030

Ditulis oleh: Amsor TV | 8 Mei 2025, 16:30 WIB Ilustrasi: Potret visual tentang bayang-bayang politik dinasti dan kekuatan militer yang dikritisi dalam era pemerintahan saat ini. Jakarta — Dinamika politik Indonesia pasca Pemilu 2024 telah membuka lembaran baru yang penuh gejolak, bukan hanya dalam tataran kekuasaan, tetapi juga pada pertanyaan fundamental mengenai masa depan demokrasi dan keutuhan negara. Kemenangan pasangan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka dalam kontestasi Pilpres lalu memang telah disahkan secara resmi, namun perdebatan tentang legitimasi moral dan politiknya belum benar-benar selesai. Apalagi, kemenangan ini dinilai menjadi simbol konkret menguatnya fenomena politik dinasti di Indonesia. Isu ini kembali mencuat tajam dalam diskusi publik bertajuk Speak Up , yang dipandu oleh mantan Ketua KPK, Abraham Samad. Menghadirkan Bung Sat Ginting—pengamat milite...